Anaphalis javanica (Bunga Edelweis)

Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus,...

Orangutan Sumatera

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia.

Kera Emas Berhidung Pesek

Satu lagi spesies langka dari jenis kera ditemukan di daratan China, kera ini sangat langka dan tidak memiliki kebiasaan menahan napas seperti yang umumnya dilakukan kera-kera lain.

Kukang Jawa, Si Malu-malu yang Hampir Punah

Kukang jawa adalah kukang yang paling terancam punah. Kukang bernama latin Nycticebus javanicus ini menjadi salah satu primata paling langka di Indonesia.

Mawar Hitam Ternyata Ada, Tumbuh Alami di Turki

Pernah terbayang menerima bunga mawar hitam? Bunga ini benar-benar ada di negara Turki, bunga mawar hitam tumbuh alami di sana.

Minggu, 01 Juni 2014

Kera Emas Berhidung Pesek


Satu lagi spesies langka dari jenis kera ditemukan di daratan China, kera ini sangat langka dan tidak memiliki kebiasaan menahan napas seperti yang umumnya dilakukan kera-kera lain. Rambutnya memancarkan warna keemasan yang indah, yang dikombinasikan dengan sedikit paduan warna merah dan hitam. Kera keemasan ini telah menjadi fauna endemik dataran Tiongkok sejak berabad-abad lalu. Sejak saat itu pula spesies ini oleh para penulis dan seniman digambarkan sebagai hewan yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dengan mitos dalam kesusasteraan dan seni China. Ya, inilah kisah tentang kera langkaGolden Monkey yang paling memiliki kemiripan Si Raja Kera Sun Gokong.


Siapa yang tidak kenal Sun Gokong? Ia adalah tokoh legenda dalam dongeng kesusastraan China karangan Wu Cheng En yang termasyhur. Kera sakti ini memiliki ilmu yang mampu mengubah dirinya dalam 72 bentuk. Ia mampu meloncat sejauh 90.000 km. bulunya berwarna kuning keemasan dan mempunyai pandangan yang jauh. Karena ulahnya mengobrak-abrik istana langit, sang Buddha pun menghukumnya selama 500 tahun dalam himpitan gunung batu. Akhirnya seorang biksu bernama Tang san Zang menolongnya dan mereka pun memulai perjalanan ke barat untuk mengambil kitab suci.

Entah apa yang menginspirasi si pengarang untuk menggambarkan seekor kera sakti berbulu emas yang sangat melegenda bagi rakyat China. Sosoknya yang lincah tekstur wajah yang unik, serta ciri fisik dari monyet sakti ini, cuma dapat ditemukan dalam satu spesies kera yang terhitung langka dan dilindungi oleh pemerintahan China yaitu China Golden Monkey. Ya bisa jadi Wu Cheng En memulai imajinasinya setelah berjumpa dengan spesies kera unik ini.

Sebagai harta kekayaan China yang sangat berharga, Golden Monkey memiliki kemampuan bertahan hidup yang cenderung lebih kuat dibandingkan spesies kera lain di China. Mereka hidup di hutan-hutan pegunungan di China. Mereka memakan pucuk-pucuk daun, buah-buahan, bibit pinecone, kulit kayu, serangga, burung, maupun telur burung.

Namun status sebagai kera langka yang disandanganya, tidak serta merta membuat seluruh orang China berusaha menjaga kelestarian habitat kera yang bernama latinRhinopithecus roxellanae. Ada juga orang China memanfaatkan keindahan kilauan emas pada bulunya sebagai bahan untuk mantel. Selain itu, ada juga orang yang memanfaatkan daging dan tulangnya untuk obat herbal.




Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintahan China untuk melestarikan kera emas yang sangat langka ini. Di antaranya adalah pelestarian di kawasan hutan lindung Shennongjia yang terletak di bagian barat laut Provinsi Hubei, Tiongkok tengah. Tempat ini adalah hutan belantara yang memiliki lebih 3.700 jenis berbagai tumbuhan dan lebih 1.000 berbagai jenis binatang termasuk kera emas. Tempat ini disebut sebagai pusat gen tumbuhan dan binatang satu-satunya yang terpelihara utuh di daerah garis lintang tengah global.

Shennongjia luasnya lebih 3.200 km persegi. Dengan 70 persen dari wilayah dilingkupi hutan lindung. Selain itu, Shennongjia memiliki pula ekosistem hutan subtropik satu-satunya yang terpelihara baik dan utuh di daerah garis lintang tengah di dunia sekarang ini. Dengan adanya ekosistem primitif dalam kondisi yang baik, keanekaragaman biota yang melimpah dan kondisi cuaca yang nyaman, maka Sehennongjia disebut sebagai “Khazanah Hijau” dan “Taman Fauna dan Flora Alamiah”.

Kera bulu emas yang disebut sebagai makhluk indah Shennongjia adalah jenis binatang terancam punah yang menuntut adanya lingkungan ekologi paling baik. Seiring dengan perbaikan lingkungan ekologi di Shennongjia pada tahun-tahun belakangan ini, populasi kera bulu emas bertambah dari lebih 600 ekor pada masa paling sedikit menjadi lebih 1.200 ekor sekarang ini, dan menjadi pemandangan unik di Shennongjia.

Pejabat pemerintah, Qian Yuankun mengatakan,”Ada orang khawatir, kera bulu emas yang terancam punah tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya di Shennongjia, dan Shennongjia akan lenyap dari bumi. Tapi kita sekarang dapat dengan yakin mengatakan bahwa Tiongkok telah berhasil melindungi Shennongjia, jumlah kera bulu emas akan terus bertambah, lingkup kegiatannya akan semakin luas. Shennongjia mendapat perlindungan efektif di Tiongkok dan semakin mempesona. Shennongjia di masa depan akan menjadi taman yang indah lingkungannya dan harmonis hubungan antara manusia dan alam,” tuturnya.

Pemerintah daerah hutan Shennongjia pada awal tahun 1990-an sementara melakukan konservasi titik berat atas Shennongjia. Secara moderat telah mengembangkan pariwisata ekologi. Apapun itu, melalui Shennongjia pemerintahan China dapat dikatakan berhasil menjaga kelestarian kera berbulu emas.


Kera berbulu emas ternyata memiliki jenis lain yang sangat langka bahkan hampir punah. Jenis kera emas ini disebut kera emas berhidung pesek. Spesies kera emas berhidung pesek (Rhinopithecus roxellana- Snub Nosed), spesies yang lebih langka dibanding panda raksasa, secara mengejutkan telah muncul lagi dalam populasi empat kali lipat dibanding dua dekade terakhir.

Kera ini hidup di ketinggian pegunungan Yunling Tibet barat laut Yunnan (Cina barat-daya).Kera emas ini adalah spesies yang paling sukar ditangkap. Spesies ini cocok dengan lingkungan yang paling ekstrem dari 3.000 hingga 4.500 meter (9.800 sampai 14.800 kaki), di mana suhu mungkin turun di bawah titik beku. Hari ini ada kurang dari 2.000 ekor Kera emas Yunnan yang terancam punah dan membutuhkan perlindungan. Peradaban manusia telah menyingkirkan hewan ini ke jajaran pegunungan yang justru menghindarkan mereka dari ambang kepunahan.

Selain di Yunnan, kera emas berhidung pesek yang hanya ditemukan di sebelah barat daya Provinsi Guizhou ini jumlahnya bertambah dari sekitar 200 ekor pada awal tahun 1980-an, menjadi sekitar 800 ekor, ungkap kantor berita Xinhua. Walau jumlahnya bertambah, namun hewan ini masih dianggap langka, demikian dikatakan seorang ahli primata. Perburuan liar dan kebakaran hutan adalah dua ancaman utama terhadap populasi monyet-monyet ini, kata Yang Yeqin, direktur Cagar Alam Nasional Fanjingshan Guizhou, tempat di mana monyet-monyet ini hidup.

Hewan cantik ini juga sangat rawan terhadap penyakit-penyakit manusia, seperti tuberculosis, kolera dan cacar air, kata Yang. Para peneliti yakin, jumlah monyet hidung pesek ini tidak akan meningkat lagi dengan cepat walau habitat mereka diperluas. Kebalikannya, jumlah mereka bisa menurun drastis bila tempat hidupnya dipersempit, dan mungkin mengakibatkan kepunahannya. Guna menjaga keberadaannya, para ahli menyarankan agar wilayah tempat tinggal monyet-monyet emas diperluas, perlindungan dan pengawasan diperketat, serta dipastikan ada program pengembangan populasi yang baik.

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)



Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Famili: Cercopithecidae
Genus: Macaca
Spesies: Macaca fascicularis (Raffles, 1821)


Monyet Ekor Panjang atau Macaca fascicularis memang monyet populer. Monyet dengan ekor panjang inilah yang sering kita lihat. Selain populasi monyet jenis ini cenderung masih banyak, kemampuannya beradaptasi membuat monyet ekor panjang terbiasa dengan kehadiran manusia sehingga banyak dipelihara. Bahkan monyet ini populer dipergunakan dalam atraksi “topeng monyet”.


Dalam bahasa Inggris, monyet ekor panjang dinamakan Crab-eating Macaque atau Long-tailed Macaque. Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah) primata ini dinamai Macaca fascicularis yang bersinonim dengan Macaca irus.
Di beberapa daerah di Indonesia, Monyet Ekor Panjang disebut dengan berbagai nama seperti Bojog (Bali), Kethek atau Munyuk (Jawa), Monyet, Kunyuk atau Onces (Sunda).
Monyet yang berkerabat dekat dengan Beruk Mentawai dan Monyet Hitam Sulawesi ini sering dijadikan hewan peliharaan juga juga sering dimanfaatkan untuk keperluan penelitian medis dan sebagai hewan percobaan. Di Indonesia Monyet Ekor Panjang sering juga dijadikan pertunjukan topeng monyet.Description: Monyet Ekor Panjang
Diskripsi Monyet Ekor Panjang. Saat dewasa Monyet Ekor Panjang mempunyai panjang tubuh sekitar 38-55 cm ditambah ekor sepanjang 40-65 cm. Berat tubuh Long-tailed Macaque berkisar antara 5-9 kg untuk jantan dan 3-6 kg untuk monyet betina.
Bulu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) berwarna coklat keabu-abuan hingga coklat kemerahan dengan wajah berwarna abu-abu kecoklatan serta jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Monyet ini memiliki gigi seri berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan.
Monyet Ekor Panjang hidup berkelompok dengan anggota antara 5 hingga 40-an ekor lebih. Dalam satu kelompok terdapat 2-5 pejantan dengan jumlah betina 2-5 kali lipatnya dengan salah satu monyet jantan sebagai pemimpin kelompok. Seekor pejantan biasanya melakukan perkawinan dengan beberapa betina sekaligus.
Monyet yang populer dipelihara dan dijadikan hiburan topeng monyet termasuk hewan omnivora. Makanannya bervariasi mulai dari buah, daun, bunga, umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan kepiting. Meskipun mayoritas yang dikonsumsi adalah buah-buahan.
Persebaran dan Subspesies Monyet Ekor Panjang. Primata ini mampu hidup dalam beragam ekosistem mulai dari hutan bakau di pantai, dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter dpl. Monyet jenis ini tersebar luas di kawasan Asia Tenggara dan Selatan mulai dari Banglades, Brunei, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
Di Indonesia Monyet bernama latin Macaca fascicularis ini dapat dijumpai di Bali, Bangka, Bawean, Belitung, Jawa, Kalimantan, Kangean, Karimunjawa, Karimata, Lombok, Nias, Nusa Tenggara, Simeulue, Sumatra, Sumba, Sumbawa, dan Timor.
Di seluruh dunia terdapat sepuluh subspesies Monyet Ekor Panjang (Crab-eating Macaque). Subspesies (anak-jenis) itu antara lain:
§  Macaca fascicularis fascicularis; Tersebar luas di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
§  Macaca fascicularis fuscus; endemik pulau Simeulue, Sumatra, Indonesia.
§  Macaca fascicularis lasiae; endemik pulau Lasia, Sumatra, Indonesia.
§  Macaca fascicularis tua; endemik pulau Maratua, Kalimantan, Indonesia.
§  Macaca fascicularis karimondjawae; endemik pulau Karimunjawa, Indonesia.
§  Macaca fascicularis aureus; Bangladesh, Laos, Myanmar, dan Thailand.
§  Macaca fascicularis umbrosus; Pulau Nicobar, India.
§  Macaca fascicularis condorensis; Vietnam.
§  Macaca fascicularis philippensis: Filipina.
§  Macaca fascicularis atriceps: Thailand.
Konservasi Monyet Ekor Panjang. Populasi Monyet Ekor Panjang secara umum masih dianggap aman sehingga IUCN Redlist mengkategorikannya dalam status Least Concern. Dan oleh CITES didaftar sebagai Apendiks II. Bahkan di Indonesia, primata ini juga bukan termasuk salah satu binatang yang dilindungi.
Namun lantaran perburuan besar-besaran yang terus terjadi, pemanfaatan M. fascicularis khususnya untuk pasar ekspor telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 26/Kpts-II/94 tanggal 20 Januari 1994 tentang Pemanfaatan Jenis Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), Beruk (Macaca Nemestrina) dan Ikan Arwana (Scleropagus Formosus) untuk Keperluan Ekspor. Yang mana dalam peraturan ini pemanfaatanMacaca fascicularis untuk keperluan eksport harus berasal dari hasil penangkaran.
Meskipun bukan satwa yang dilindungi dan populasinya masih banyak bahkan dibeberapa kawasan lindung pernah diberitakan kelebihan populasi monyet jenis ini dan di beberapa daerah kerap menjadi hama para petani, namun bukan berarti keberadaan satwa ini aman.
Justru karena lantaran tidak termasuk satwa yang dilindungi monyet jenis ini paling rentan terhadap ekspoitasi baik diburu, diperdagangkan, dan dijadikan objek tontonan. Ditambah dengan tingkat deforestasi yang terjadi dan penyempitan luas hutan di Indonesia, bukan tidak mungkin Monyet Ekor Panjang akan ikut terancam.


Mawar Hitam Ternyata Ada, Tumbuh Alami di Turki



Pernah terbayang menerima bunga mawar hitam? Bunga ini benar-benar ada di negara Turki, bunga mawar hitam tumbuh alami di sana. Sayangnya, bunga langka ini mendekati kepunahan.
Dalam banyak cerita dan mitos, bunga mawar hitam sering dikaitkan dengan ilmu hitam atau dunia vampir. Ada juga yang mengatakan bahwa bunga mawar hitam adalah simbol cinta mati. Anda ingin memiliki bunga langka ini? Datanglah ke Halfeti, Turki.
Bunga mawar hitam banyak tumbuh subur di daerah Halfeti. Mengapa bisa ada mawar hitam di sana? Karena daerah Halfeti memiliki kondisi tanah yang langka dan berbeda dengan daerah lain. Iklim di sana juga dipengaruhi oleh sungai Efrat. Perpaduan inilah yang membuat mawar yang tumbuh di sana cenderung berwarna magenta tua atau ungu tua mendekati hitam.

Pigmen alami itu bernama anthocyanin, yaitu kandungan warna alami yang juga terdapat pada raspberry dan blueberry. Mawar-mawar hitam ini biasanya hanya mekar 2 kali dalam setahun selama 15 hari.
Bunga Mawar Hitam Langka Hampir Punah
Sayangnya, konstruksi bendungan di Halfeti menggusur banyak tanah dan lahan. Jumlah mawar hitam yang tumbuh makin sedikit dan hampir mengalami kepunahan. Pejabat dan warga setempat masih berjuang mempertahankan bunga langka ini.
Bunga mawar hitam akan mekar dengan warna merah magenta gelap di musim semi dan musim gugur, namun warna hitamnya akan pudar saat musim panas. Pemerintah masih berusaha mempertahankan bunga langka ini sebagai daya tarik wisata Halfeti.



Sabtu, 31 Mei 2014

Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku atau Pterydophyta tergolong tumbuhan Cormophyta kaena sudah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tumbuhan paku memiliki cara hidup yang bemacam-macam, ada yang saprofit, epifit, hidup di tanah, atau di air. Tumbuhan ini juga mengalami metagenesis seperti lumut tetapi bebeda pada fase yang dominant. Pada tumbuhan paku fase yang lebih dominan adalah pada fase sporofit dibandingkan dengan gametofit sehingga tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari merupakan fase sporofit.

Pada umumnya, tumbuhan paku banyak hidup pada tempat lembap sehingga disebut sebagai tanaman higrofit. Pada hutan-hutan tropik dan subtropik, tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke lereng-lereng gunung, bahkan ada yang hidup di sekitar kawah gunung berapi.

Karakteristik Tumbuhan Paku

Secara umum, ciri-ciri tumbuhan paku mempunyai:
1. Lapisan pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
2. Embrio multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
3. Lapisan kutikula pada bagian luar tubuh,
4. Sistem transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat mineral dari dalam tanah,
5. Struktur tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun,
6. Akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi kaliptra,
7. Batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
8. Daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung.

Berdasarkan bentuk, ukuran dan susunan daunnya, tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi:

1. Daun mikrofil (daun kecil), berbentuk seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan bertulang daun serta belum memperlihatkan diferensiasi sel.
2. Daun makrofil (daun besar), ukurannya besar, bertangkai, bertulang daun, dan bercabang-cabang serta sel-selnya sudah terdiferensiasi dengan baik.

Berdasarkan fungsinya, daun tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi:

1. Daun tropofil, daun yang khusus sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis,

2. Daun sporofil, daun yang berfungsi sebagai penghasil spora.

Spora dibentuk di dalam sporangium (kotak spora) yang terkumpul di dalam suatu badan yang disebut sorus yang terletak di bawah permukaan daun sporofil, berupa bintik-bintik kuning, cokelat, atau cokelat kehitaman. Swaktu masih muda, sorus dilindungi oleh selaput tipis yang disebut indisium.

Reproduksi Tumbuhan Paku

Reproduksi tumbuhan paku berlangsung secara metagenesis. Reproduksi vegetatif dengan spora haploid (n) yang dihasilkan oleh tumbuhan paku. Jadi, tumbuhan paku merupakan tumbuhan dalam fase sporofit (penghasil spora). Reproduksi generatif terjadi melalui peleburan antara spermatozoid dan ovum yang dihasilkan oleh protalium. Jadi, protalium yang berbentuk talus merupakan fase gametofit (penghasil gamet).

Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakn atas 3 golongan, yaitu:

a. Paku homospora (isospora), yaitu tumbuhan paku yang hanya menghasilkan satu macam ukuran spora. Contoh: Lycopodium sternum (paku kawat).

b. Paku heterospora (anisospora), yaitu tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu mikrospora (berkelamin jantan yang berukuran kecil) dan makrospora (spora berkelamin betina yang berukuran besar). Contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella (paku rane).

c. Paku peralihan, yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama, tetapi berbeda jenis kelaminnya. Satu berjenis kelamin jantan dan yang lain berjenis kelamin betina. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).

Klasifikasi Tumbuhan Paku

Berdasarkan tingkat perkembangannya, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 4 subdivisi, yaitu:

1. Subdivisi Psilopsida

Subdivisi Psilopsida merupakan jenis tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki dua genus yang hidup tersebar luas di daerah tropik dan subtropik. Termasuk tumbuhan paku homospora dan sudah hampir punah. Pada generasi sporofit, jenis tumbuhan paku ini mempunyai ranting yang bercabang-cabang dan tidak memiliki akar dan daun. Sebagai pengganti akar, jenis tumbuhan paku ini memiliki akar yang diselubungi rambut-rambut kecil yang disebut rizoid dan belum memiliki jaringan pengangkut. Contohnya adalah Psilotum nudum.

2. Subdivisi Lycopsida
Disebut ga sebagai paku kawat atau paku rambut. Anggota kelompok ini memiliki daun kecil-kecil dan tidak bertangkai. Tumbuhan paku ini termasuk paku yang hterspora. Hidup sebagai epifit di daerah tropis. Contohnya adalah Lycopodium cernuum (paku kawat) dan Selaginella (paku rane).

3. Subdivisi Sphenopsida
Dikenal sebagai paku ekor kuda dengan sporofit yang cukup mencolok. Gametofitnya berkembang dari spora berukuran sangat kecil, dapat berfotosintesis serta hidup secara bebas. Spora haploid dihasilkan di dalam sporangium secara meiosis. Sphenopsida termasuk paku peralihan. Umumnya memiliki batang bercabang dan beruas-ruas. Daunnya kecil seperti selaput halus, tunggal dan tersusun melingkar. Batangnya berwarna hijau yang mengandung klorofil untuk fotosintesis. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).

4. Subdivisi Pteropsida
Dikenal sebagai pakis menurut pengertian kita sehari-hari. Banyak ditemukan di daerah hutan tropis dan subtropis. Memiliki daun yang lebih besar dibandingkan dengan subdivisi lainnya dan dibedakan menjadi dua macam yaitu megafil dengan sistem percabangan pembuluh dan mikrofil yaitu daun yang tumbuh dari batang yang mengandung untaian tunggal jaringan pengangkut. Daunnya yang masih muda menggulung pada ujungnya dan sporangium terdapat pada sporofil. Contohnya adalah Adiantum cuneatum (suplir), Marsilea crenata (semanggi), dan Asplenium nidus (paku sarang kuda).

Manfaat Tumbuhan Paku


Tumbuhan paku memiliki beberapa nilai ekonomis bagi kehidupan manusia, antara lain sebagai berikut:
1. Tanaman hias, contohnya suplir dan paku ekor kuda.
2. Untuk sayuran, misalnya semanggi dan beberapa jenis daun tumbuhan paku yang masih muda.
3. Bahan obat-obatan, misalnya paku kawat.
4. Pupuk hijau, mislanya Azolla pinnata yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae (ganggang hijau-biru) dapat mengikat nitrogen bebas dari udara.

Kamis, 01 Mei 2014

Anaphalis javanica (Bunga Edelweis)


Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus , sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya..