Minggu, 01 Juni 2014
Kera Emas Berhidung Pesek
22.02
No comments
Satu lagi spesies langka dari jenis kera ditemukan di
daratan China, kera ini sangat langka dan tidak memiliki kebiasaan menahan napas
seperti yang umumnya dilakukan kera-kera lain. Rambutnya memancarkan warna
keemasan yang indah, yang dikombinasikan dengan sedikit paduan warna merah dan
hitam. Kera keemasan ini telah menjadi fauna endemik dataran Tiongkok sejak
berabad-abad lalu. Sejak saat itu pula spesies ini oleh para penulis dan
seniman digambarkan sebagai hewan yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dengan
mitos dalam kesusasteraan dan seni China. Ya, inilah kisah tentang kera langkaGolden
Monkey yang paling memiliki kemiripan Si Raja Kera Sun Gokong.
Siapa yang tidak kenal Sun Gokong? Ia adalah tokoh
legenda dalam dongeng kesusastraan China karangan Wu Cheng En yang termasyhur.
Kera sakti ini memiliki ilmu yang mampu mengubah dirinya dalam 72 bentuk. Ia
mampu meloncat sejauh 90.000 km. bulunya berwarna kuning keemasan dan mempunyai
pandangan yang jauh. Karena ulahnya mengobrak-abrik istana langit, sang Buddha
pun menghukumnya selama 500 tahun dalam himpitan gunung batu. Akhirnya seorang
biksu bernama Tang san Zang menolongnya dan mereka pun memulai perjalanan ke
barat untuk mengambil kitab suci.
Entah apa yang menginspirasi si pengarang untuk
menggambarkan seekor kera sakti berbulu emas yang sangat melegenda bagi rakyat
China. Sosoknya yang lincah tekstur wajah yang unik, serta ciri fisik dari
monyet sakti ini, cuma dapat ditemukan dalam satu spesies kera yang terhitung
langka dan dilindungi oleh pemerintahan China yaitu China Golden Monkey.
Ya bisa jadi Wu Cheng En memulai imajinasinya setelah berjumpa dengan spesies
kera unik ini.
Sebagai harta kekayaan China yang sangat berharga,
Golden Monkey memiliki kemampuan bertahan hidup yang cenderung lebih kuat
dibandingkan spesies kera lain di China. Mereka hidup di hutan-hutan pegunungan
di China. Mereka memakan pucuk-pucuk daun, buah-buahan, bibit pinecone, kulit
kayu, serangga, burung, maupun telur burung.
Namun status sebagai kera langka yang disandanganya,
tidak serta merta membuat seluruh orang China berusaha menjaga kelestarian
habitat kera yang bernama latinRhinopithecus roxellanae. Ada juga orang China
memanfaatkan keindahan kilauan emas pada bulunya sebagai bahan untuk mantel.
Selain itu, ada juga orang yang memanfaatkan daging dan tulangnya untuk obat
herbal.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintahan China
untuk melestarikan kera emas yang sangat langka ini. Di antaranya adalah
pelestarian di kawasan hutan lindung Shennongjia yang terletak di bagian barat
laut Provinsi Hubei, Tiongkok tengah. Tempat ini adalah hutan belantara yang
memiliki lebih 3.700 jenis berbagai tumbuhan dan lebih 1.000 berbagai jenis
binatang termasuk kera emas. Tempat ini disebut sebagai pusat gen tumbuhan dan
binatang satu-satunya yang terpelihara utuh di daerah garis lintang tengah
global.
Shennongjia luasnya lebih 3.200 km persegi. Dengan 70
persen dari wilayah dilingkupi hutan lindung. Selain itu, Shennongjia memiliki
pula ekosistem hutan subtropik satu-satunya yang terpelihara baik dan utuh di
daerah garis lintang tengah di dunia sekarang ini. Dengan adanya ekosistem
primitif dalam kondisi yang baik, keanekaragaman biota yang melimpah dan
kondisi cuaca yang nyaman, maka Sehennongjia disebut sebagai “Khazanah Hijau”
dan “Taman Fauna dan Flora Alamiah”.
Kera bulu emas yang disebut sebagai makhluk indah
Shennongjia adalah jenis binatang terancam punah yang menuntut adanya
lingkungan ekologi paling baik. Seiring dengan perbaikan lingkungan ekologi di
Shennongjia pada tahun-tahun belakangan ini, populasi kera bulu emas bertambah
dari lebih 600 ekor pada masa paling sedikit menjadi lebih 1.200 ekor sekarang
ini, dan menjadi pemandangan unik di Shennongjia.
Pejabat pemerintah, Qian Yuankun mengatakan,”Ada orang
khawatir, kera bulu emas yang terancam punah tidak dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya di Shennongjia, dan Shennongjia akan lenyap dari bumi.
Tapi kita sekarang dapat dengan yakin mengatakan bahwa Tiongkok telah berhasil
melindungi Shennongjia, jumlah kera bulu emas akan terus bertambah, lingkup
kegiatannya akan semakin luas. Shennongjia mendapat perlindungan efektif di
Tiongkok dan semakin mempesona. Shennongjia di masa depan akan menjadi taman
yang indah lingkungannya dan harmonis hubungan antara manusia dan alam,”
tuturnya.
Pemerintah daerah hutan Shennongjia pada awal tahun
1990-an sementara melakukan konservasi titik berat atas Shennongjia. Secara
moderat telah mengembangkan pariwisata ekologi. Apapun itu, melalui Shennongjia
pemerintahan China dapat dikatakan berhasil menjaga kelestarian kera berbulu
emas.
Kera berbulu emas ternyata memiliki jenis lain yang
sangat langka bahkan hampir punah. Jenis kera emas ini disebut kera emas
berhidung pesek. Spesies kera emas berhidung pesek (Rhinopithecus roxellana-
Snub Nosed), spesies yang lebih langka dibanding panda raksasa, secara
mengejutkan telah muncul lagi dalam populasi empat kali lipat dibanding dua
dekade terakhir.
Kera ini hidup di ketinggian pegunungan Yunling Tibet
barat laut Yunnan (Cina barat-daya).Kera emas ini adalah spesies yang paling
sukar ditangkap. Spesies ini cocok dengan lingkungan yang paling ekstrem dari
3.000 hingga 4.500 meter (9.800 sampai 14.800 kaki), di mana suhu mungkin turun
di bawah titik beku. Hari ini ada kurang dari 2.000 ekor Kera emas Yunnan yang
terancam punah dan membutuhkan perlindungan. Peradaban manusia telah
menyingkirkan hewan ini ke jajaran pegunungan yang justru menghindarkan mereka
dari ambang kepunahan.
Selain di Yunnan, kera emas berhidung pesek yang hanya
ditemukan di sebelah barat daya Provinsi Guizhou ini jumlahnya bertambah dari
sekitar 200 ekor pada awal tahun 1980-an, menjadi sekitar 800 ekor, ungkap
kantor berita Xinhua. Walau jumlahnya bertambah, namun hewan ini masih dianggap
langka, demikian dikatakan seorang ahli primata. Perburuan liar dan kebakaran
hutan adalah dua ancaman utama terhadap populasi monyet-monyet ini, kata Yang
Yeqin, direktur Cagar Alam Nasional Fanjingshan Guizhou, tempat di mana
monyet-monyet ini hidup.
Hewan cantik ini juga sangat rawan terhadap
penyakit-penyakit manusia, seperti tuberculosis, kolera dan cacar air, kata
Yang. Para peneliti yakin, jumlah monyet hidung pesek ini tidak akan meningkat
lagi dengan cepat walau habitat mereka diperluas. Kebalikannya, jumlah mereka
bisa menurun drastis bila tempat hidupnya dipersempit, dan mungkin
mengakibatkan kepunahannya. Guna menjaga keberadaannya, para ahli menyarankan
agar wilayah tempat tinggal monyet-monyet emas diperluas, perlindungan dan
pengawasan diperketat, serta dipastikan ada program pengembangan populasi yang
baik.
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
21.52
No comments
Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Famili: Cercopithecidae
Genus: Macaca
Spesies: Macaca fascicularis (Raffles, 1821)
Monyet Ekor Panjang atau Macaca fascicularis memang monyet populer. Monyet dengan ekor panjang inilah yang sering kita lihat. Selain populasi monyet jenis ini cenderung masih banyak, kemampuannya beradaptasi membuat monyet ekor panjang terbiasa dengan kehadiran manusia sehingga banyak dipelihara. Bahkan monyet ini populer dipergunakan dalam atraksi “topeng monyet”.
Dalam bahasa Inggris,
monyet ekor panjang dinamakan Crab-eating Macaque atau Long-tailed
Macaque. Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah) primata ini
dinamai Macaca
fascicularis yang
bersinonim dengan Macaca irus.
Di
beberapa daerah di Indonesia, Monyet Ekor Panjang disebut
dengan berbagai nama seperti Bojog (Bali), Kethek atau Munyuk (Jawa), Monyet,
Kunyuk atau Onces (Sunda).
Monyet yang
berkerabat dekat dengan Beruk Mentawai dan Monyet Hitam Sulawesi ini
sering dijadikan hewan peliharaan juga juga sering dimanfaatkan untuk keperluan
penelitian medis dan sebagai hewan percobaan. Di Indonesia Monyet Ekor Panjang
sering juga dijadikan pertunjukan topeng monyet.
Diskripsi Monyet Ekor Panjang. Saat dewasa Monyet Ekor Panjang
mempunyai panjang tubuh sekitar 38-55 cm ditambah ekor sepanjang 40-65 cm.
Berat tubuh Long-tailed
Macaque berkisar
antara 5-9 kg untuk jantan dan 3-6 kg untuk monyet betina.
Bulu Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis)
berwarna coklat keabu-abuan hingga coklat kemerahan dengan wajah berwarna
abu-abu kecoklatan serta jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat
jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Monyet
ini memiliki gigi seri berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah
makanan.
Monyet
Ekor Panjang hidup berkelompok dengan anggota antara 5 hingga 40-an ekor lebih.
Dalam satu kelompok terdapat 2-5 pejantan dengan jumlah betina 2-5 kali
lipatnya dengan salah satu monyet jantan sebagai pemimpin kelompok. Seekor
pejantan biasanya melakukan perkawinan dengan beberapa betina sekaligus.
Monyet yang
populer dipelihara dan dijadikan hiburan topeng monyet termasuk hewan omnivora.
Makanannya bervariasi mulai dari buah, daun, bunga, umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan
kepiting. Meskipun mayoritas yang dikonsumsi adalah buah-buahan.
Persebaran dan Subspesies
Monyet Ekor Panjang.
Primata ini mampu hidup dalam beragam ekosistem mulai dari hutan bakau di
pantai, dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter dpl.
Monyet jenis ini tersebar luas di kawasan Asia Tenggara dan Selatan mulai dari
Banglades, Brunei, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura,
Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
Di Indonesia
Monyet bernama latin Macaca fascicularis ini
dapat dijumpai di Bali, Bangka, Bawean, Belitung, Jawa, Kalimantan, Kangean, Karimunjawa, Karimata, Lombok, Nias, Nusa
Tenggara, Simeulue, Sumatra, Sumba, Sumbawa, dan Timor.
Di seluruh dunia
terdapat sepuluh subspesies Monyet Ekor Panjang (Crab-eating
Macaque). Subspesies (anak-jenis) itu antara lain:
§
Macaca fascicularis fascicularis;
Tersebar luas di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
§
Macaca fascicularis lasiae;
endemik pulau Lasia, Sumatra, Indonesia.
§
Macaca fascicularis tua;
endemik pulau Maratua, Kalimantan, Indonesia.
§
Macaca fascicularis karimondjawae;
endemik pulau Karimunjawa, Indonesia.
§
Macaca fascicularis aureus;
Bangladesh, Laos, Myanmar, dan Thailand.
§
Macaca fascicularis umbrosus;
Pulau Nicobar, India.
§
Macaca fascicularis condorensis;
Vietnam.
§
Macaca fascicularis philippensis:
Filipina.
§
Macaca fascicularis atriceps:
Thailand.
Konservasi Monyet Ekor Panjang. Populasi Monyet Ekor Panjang secara
umum masih dianggap aman sehingga IUCN Redlist
mengkategorikannya dalam status Least Concern. Dan oleh CITES didaftar sebagai
Apendiks II. Bahkan di Indonesia, primata ini juga bukan termasuk salah satu
binatang yang dilindungi.
Namun lantaran
perburuan besar-besaran yang terus terjadi, pemanfaatan M. fascicularis
khususnya untuk pasar ekspor telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor: 26/Kpts-II/94 tanggal 20 Januari 1994 tentang Pemanfaatan Jenis Kera
Ekor Panjang (Macaca Fascicularis),
Beruk (Macaca Nemestrina)
dan Ikan Arwana (Scleropagus Formosus) untuk Keperluan Ekspor. Yang
mana dalam peraturan ini pemanfaatanMacaca
fascicularis untuk
keperluan eksport harus berasal dari hasil penangkaran.
Meskipun bukan satwa yang dilindungi dan
populasinya masih banyak bahkan dibeberapa kawasan lindung pernah diberitakan
kelebihan populasi monyet jenis ini dan di beberapa daerah kerap menjadi hama
para petani, namun bukan berarti keberadaan satwa ini aman.
Justru karena
lantaran tidak termasuk satwa yang dilindungi monyet jenis ini paling rentan
terhadap ekspoitasi baik diburu, diperdagangkan, dan dijadikan objek tontonan.
Ditambah dengan tingkat deforestasi yang
terjadi dan penyempitan luas hutan di Indonesia, bukan tidak mungkin Monyet Ekor
Panjang akan ikut terancam.
Mawar Hitam Ternyata Ada, Tumbuh Alami di Turki
21.38
1 comment
Pernah terbayang menerima bunga mawar
hitam? Bunga ini benar-benar ada di negara Turki, bunga mawar hitam tumbuh
alami di sana. Sayangnya, bunga langka ini mendekati kepunahan.
Dalam banyak cerita dan mitos, bunga
mawar hitam sering dikaitkan dengan ilmu hitam atau dunia vampir. Ada juga yang
mengatakan bahwa bunga mawar hitam adalah simbol cinta mati. Anda ingin
memiliki bunga langka ini? Datanglah ke Halfeti, Turki.
Bunga mawar hitam banyak tumbuh subur di
daerah Halfeti. Mengapa bisa ada mawar hitam di sana? Karena daerah Halfeti
memiliki kondisi tanah yang langka dan berbeda dengan daerah lain. Iklim di
sana juga dipengaruhi oleh sungai Efrat. Perpaduan inilah yang membuat mawar
yang tumbuh di sana cenderung berwarna magenta tua atau ungu tua mendekati
hitam.
Pigmen alami itu bernama anthocyanin,
yaitu kandungan warna alami yang juga terdapat pada raspberry dan blueberry.
Mawar-mawar hitam ini biasanya hanya mekar 2 kali dalam setahun selama 15 hari.
Bunga Mawar Hitam Langka Hampir Punah
Sayangnya, konstruksi bendungan di
Halfeti menggusur banyak tanah dan lahan. Jumlah mawar hitam yang tumbuh makin
sedikit dan hampir mengalami kepunahan. Pejabat dan warga setempat masih
berjuang mempertahankan bunga langka ini.
Bunga mawar hitam akan mekar dengan
warna merah magenta gelap di musim semi dan musim gugur, namun warna hitamnya
akan pudar saat musim panas. Pemerintah masih berusaha mempertahankan bunga
langka ini sebagai daya tarik wisata Halfeti.
Sabtu, 31 Mei 2014
Tumbuhan Paku (Pteridophyta)
13.07
No comments
Tumbuhan paku atau Pterydophyta
tergolong tumbuhan Cormophyta kaena sudah memiliki akar, batang, dan
daun sejati. Tumbuhan paku memiliki cara hidup yang bemacam-macam, ada
yang saprofit, epifit, hidup di tanah, atau di air. Tumbuhan ini juga
mengalami metagenesis seperti lumut tetapi bebeda pada fase yang
dominant. Pada tumbuhan paku fase yang lebih dominan adalah pada fase
sporofit dibandingkan dengan gametofit sehingga tumbuhan paku yang kita
lihat sehari-hari merupakan fase sporofit.
Pada
umumnya, tumbuhan paku banyak hidup pada tempat lembap sehingga disebut
sebagai tanaman higrofit. Pada hutan-hutan tropik dan subtropik,
tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, tersebar
mulai dari tepi pantai sampai ke lereng-lereng gunung, bahkan ada yang
hidup di sekitar kawah gunung berapi.
Karakteristik Tumbuhan Paku
Secara umum, ciri-ciri tumbuhan paku mempunyai:
1. Lapisan pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
2. Embrio multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
3. Lapisan kutikula pada bagian luar tubuh,
4. Sistem transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat mineral dari dalam tanah,
5. Struktur tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun,
6. Akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi kaliptra,
7. Batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
8. Daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung.
Karakteristik Tumbuhan Paku
Secara umum, ciri-ciri tumbuhan paku mempunyai:
1. Lapisan pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
2. Embrio multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
3. Lapisan kutikula pada bagian luar tubuh,
4. Sistem transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat mineral dari dalam tanah,
5. Struktur tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun,
6. Akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi kaliptra,
7. Batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
8. Daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung.

1. Daun mikrofil (daun kecil), berbentuk seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan bertulang daun serta belum memperlihatkan diferensiasi sel.
2. Daun makrofil (daun besar), ukurannya besar, bertangkai, bertulang daun, dan bercabang-cabang serta sel-selnya sudah terdiferensiasi dengan baik.
Berdasarkan fungsinya, daun tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi:
1. Daun tropofil, daun yang khusus sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis,
2. Daun sporofil, daun yang berfungsi sebagai penghasil spora.
Spora
dibentuk di dalam sporangium (kotak spora) yang terkumpul di dalam
suatu badan yang disebut sorus yang terletak di bawah permukaan daun
sporofil, berupa bintik-bintik kuning, cokelat, atau cokelat kehitaman.
Swaktu masih muda, sorus dilindungi oleh selaput tipis yang disebut
indisium.
Reproduksi Tumbuhan Paku
Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakn atas 3 golongan, yaitu:
a. Paku homospora (isospora), yaitu tumbuhan paku yang hanya menghasilkan satu macam ukuran spora. Contoh: Lycopodium sternum (paku kawat).
b. Paku heterospora (anisospora), yaitu tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu mikrospora (berkelamin jantan yang berukuran kecil) dan makrospora (spora berkelamin betina yang berukuran besar). Contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella (paku rane).
c. Paku peralihan, yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama, tetapi berbeda jenis kelaminnya. Satu berjenis kelamin jantan dan yang lain berjenis kelamin betina. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).
Klasifikasi Tumbuhan Paku
Berdasarkan tingkat perkembangannya, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 4 subdivisi, yaitu:
1. Subdivisi Psilopsida
Subdivisi
Psilopsida merupakan jenis tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki
dua genus yang hidup tersebar luas di daerah tropik dan subtropik.
Termasuk tumbuhan paku homospora dan sudah hampir punah. Pada generasi
sporofit, jenis tumbuhan paku ini mempunyai ranting yang
bercabang-cabang dan tidak memiliki akar dan daun. Sebagai pengganti
akar, jenis tumbuhan paku ini memiliki akar yang diselubungi
rambut-rambut kecil yang disebut rizoid dan belum memiliki jaringan
pengangkut. Contohnya adalah Psilotum nudum.
Disebut
ga sebagai paku kawat atau paku rambut. Anggota kelompok ini memiliki
daun kecil-kecil dan tidak bertangkai. Tumbuhan paku ini termasuk paku
yang hterspora. Hidup sebagai epifit di daerah tropis. Contohnya adalah
Lycopodium cernuum (paku kawat) dan Selaginella (paku rane).
Dikenal
sebagai paku ekor kuda dengan sporofit yang cukup mencolok.
Gametofitnya berkembang dari spora berukuran sangat kecil, dapat
berfotosintesis serta hidup secara bebas. Spora haploid dihasilkan di
dalam sporangium secara meiosis. Sphenopsida termasuk paku peralihan.
Umumnya memiliki batang bercabang dan beruas-ruas. Daunnya kecil seperti
selaput halus, tunggal dan tersusun melingkar. Batangnya berwarna hijau
yang mengandung klorofil untuk fotosintesis. Contohnya adalah Equisetum
debile (paku ekor kuda).
4. Subdivisi Pteropsida
4. Subdivisi Pteropsida
Manfaat Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku memiliki beberapa nilai ekonomis bagi kehidupan manusia, antara lain sebagai berikut:
1. Tanaman hias, contohnya suplir dan paku ekor kuda.
2. Untuk sayuran, misalnya semanggi dan beberapa jenis daun tumbuhan paku yang masih muda.
3. Bahan obat-obatan, misalnya paku kawat.
4. Pupuk hijau, mislanya Azolla pinnata yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae (ganggang hijau-biru) dapat mengikat nitrogen bebas dari udara.
Kamis, 01 Mei 2014
Anaphalis javanica (Bunga Edelweis)
14.48
No comments
Edelweis merupakan
tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu
mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu
membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas
kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari
zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan
Agustus , sangat disukai
oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya..
Langganan:
Postingan (Atom)


















